
Generasi masa lalu, seperti orangtua kita, banyak yang memilih menyimpan emas daripada menabung. Menyimpan emas memang menguntungkan, karena nilainya tak pernah turun.
Ketika masih kecil, Sita selalu heran mengapa ibunya sering membelikan uangnya dengan emas ketimbang menabungnya di bank. Sita baru mengerti setelah dewasa, ternyata emas simpanan sang bunda dapat menyelamatkan ibunya. Ketika ibunya yang sudah renta jatuh sakit, emas simpanan tadi kemudian dijual dengan harga tinggi, untuk membayar biaya rumah sakit tyang tak sedikit.
Begitulah, emas mempunyai berbagai aspek yang menyentuh kebutuhan manusia, selain tentu saja dapat dinikmati keindahannya dari sisi fisiknya yang berkilauan. Lebih jauh lagi, emas pun dapat dijadikan investasi, karena setiap saat nilainya akan selalu naik dan naik.
"Nilai emas di saat stabil, akan cenderung aman untuk diinvestasikan, dan dapat dikelola sendiri," papar Mohamad Ihsan Palaloi, Konsultan Investasi Emas sekaligus pengelola website www.investasi-emas.com dan www.investasi-emas.info.
Dalam teori berinvestasi, lanjut Ihsan, ada investasi yang dikelola sendiri (simpan emas, membeli properti, atau membuka usaha kecil) dan investasi yang dikelola orang lain. Sebaiknya, bila ingin berinvestasi yang dikelola orang lain, Anda harus dapat mengelola investasi sendiri terlebih dulu dengan baik.
Sayangnya, banyak yang belum mengerti tentang mengelola investasi ini. Kebanyakan orang justru terburu-buru memilih investasi yang dikelola orang lain terlebih dulu ketimbang mengelola investasi sendiri. Akibatnya, jika salah mengembangkan, Anda akan gagal dalam berinvestasi.
Memutar EmasSalah satu bentuk investasi yang dapat dikelola sendiri adalah menyimpan emas, sebagai investasi jangka panjang. Emas dapat dikelola sendiri, karena tak bergantung kepada orang lain. "Emas merupakan faktor produksi, jadi ketika dijual lagi, harus bisa produktif menghasilkan kembali. Misalnya berniat untuk melakukan hal-hal yang sifatnya strategis seperti beribadah haji atau membuka usaha."
Jika dari hasil menjual emas Anda sudah bisa membeli kios, itu artinya emas yang Anda simpan dapat dijadikan faktor produksi kembali. Namun, jika kios sudah ada tapi belum siap berjualan, Anda bisa menyewakan kios itu dulu. Hasil sewanya, bisa dibelikan emas lagi. Atau, sertifikat kios digadaikan ke bank, dan uangnya dapat Anda belikan emas lagi.
Emas dapat diputar untuk menghasilkan sesuatu.Dan tak perlu khawatiran tak bisa mengelola emas, karena siapa pun bisa, kok, melakukannya. Caranya, sisihkan 1/3 dari gaji bersih ke dalam bentuk emas (membeli emas). Atau, kummpulkan koin-koin emas mulai dari 1-2 gram, sebagai langkah awal. "Begitu mendapat untung besar atau kecil, konversikan ke dalam bentuk emas kembali," ujar penulis buku Kemilau Investasi Emas ini.
Bagi mereka yang memiliki usaha pun sangat bisa berinvestasi emas. Misalnya seorang wirausahawan kecil atau penjual pakaian yang harus selalu menyiapkan stok barang. Ketika ada untung, sisihkan saja sebagian untuk membeli emas, selain untuk membeli stok barang. Namun, sebaiknya jangan memaksa membeli emas jika belum ada untung.
Memilih EmasMengapa harus emas? Menurut Ihsan, emas banyak digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara, dan cadangan devisa, selain dijadikan hanya sebagai perhiasan. "Bahkan, emas juga dijadikan sebagai alat pembayaran yang paling utama di dunia."
Di dunia, emas juga dipersepsikan sebagai logam mulia yang amat bernilai. Emas memiliki suplai terbatas, dengan permintaan yang tak terbatas. Sehingga, tak heran bila harga emas makin hari makin naik saja. Nilai mata uang boleh saja menurun terus, tetapi tidak pada emas. Berinvestasi emas juga tak tergantung kepada pihak ketiga. Hal inilah menjadi alasan orang berinvestasi emas.
Meski tetap ada ruginya, di saat kondisi ekonomi sedang terpuruk dan terjadi inflasi, harga emas rata-rata justru akan melonjak. "Semakin inflasi, harga emas justru semakin naik. Misalnya terjadi inflasi 10%, harga emas pasti akan naik sekitar 20%. Jadi kenaikannya hampir dua kali lipat."
Ketika terjadi inflasi, nilai mata uang akan turun, daya beli masyarakat pun ikut turun. Akibatnya, banyak orang harus punya uang lebih bila ingin membeli satu gram emas, bukan?
Menurut Ihsan, idelanya emas yang baik untuk disimpan adalah emas dalam bentuk batangan, karena free tax. Tetapi bagi kaum perempuan yang senang berhias, wajar jika memilih membeli emas dalam bentuk perhiasan, meski harganya harus kena pajak sebanyak 10%.
Lalu, di mana bisa membeli emas batangan? Perhiasan emas memang banyak tersedia di sejumlah toko emas yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan emas dalam bentuk batangan logam mulia atau koin dapat Anda beli dari PT Antam Logam Mulia. Mulai dari berat 1, 2, 2,5, 3, 5, 10, 25, 100, atau 250 gram, hingga 1 kg. Atau, Anda bisa membelinya di Kantor Pegadaian di mana saja.
Ketika masih kecil, Sita selalu heran mengapa ibunya sering membelikan uangnya dengan emas ketimbang menabungnya di bank. Sita baru mengerti setelah dewasa, ternyata emas simpanan sang bunda dapat menyelamatkan ibunya. Ketika ibunya yang sudah renta jatuh sakit, emas simpanan tadi kemudian dijual dengan harga tinggi, untuk membayar biaya rumah sakit tyang tak sedikit.
Begitulah, emas mempunyai berbagai aspek yang menyentuh kebutuhan manusia, selain tentu saja dapat dinikmati keindahannya dari sisi fisiknya yang berkilauan. Lebih jauh lagi, emas pun dapat dijadikan investasi, karena setiap saat nilainya akan selalu naik dan naik.
"Nilai emas di saat stabil, akan cenderung aman untuk diinvestasikan, dan dapat dikelola sendiri," papar Mohamad Ihsan Palaloi, Konsultan Investasi Emas sekaligus pengelola website www.investasi-emas.com dan www.investasi-emas.info.
Dalam teori berinvestasi, lanjut Ihsan, ada investasi yang dikelola sendiri (simpan emas, membeli properti, atau membuka usaha kecil) dan investasi yang dikelola orang lain. Sebaiknya, bila ingin berinvestasi yang dikelola orang lain, Anda harus dapat mengelola investasi sendiri terlebih dulu dengan baik.
Sayangnya, banyak yang belum mengerti tentang mengelola investasi ini. Kebanyakan orang justru terburu-buru memilih investasi yang dikelola orang lain terlebih dulu ketimbang mengelola investasi sendiri. Akibatnya, jika salah mengembangkan, Anda akan gagal dalam berinvestasi.
Memutar EmasSalah satu bentuk investasi yang dapat dikelola sendiri adalah menyimpan emas, sebagai investasi jangka panjang. Emas dapat dikelola sendiri, karena tak bergantung kepada orang lain. "Emas merupakan faktor produksi, jadi ketika dijual lagi, harus bisa produktif menghasilkan kembali. Misalnya berniat untuk melakukan hal-hal yang sifatnya strategis seperti beribadah haji atau membuka usaha."
Jika dari hasil menjual emas Anda sudah bisa membeli kios, itu artinya emas yang Anda simpan dapat dijadikan faktor produksi kembali. Namun, jika kios sudah ada tapi belum siap berjualan, Anda bisa menyewakan kios itu dulu. Hasil sewanya, bisa dibelikan emas lagi. Atau, sertifikat kios digadaikan ke bank, dan uangnya dapat Anda belikan emas lagi.
Emas dapat diputar untuk menghasilkan sesuatu.Dan tak perlu khawatiran tak bisa mengelola emas, karena siapa pun bisa, kok, melakukannya. Caranya, sisihkan 1/3 dari gaji bersih ke dalam bentuk emas (membeli emas). Atau, kummpulkan koin-koin emas mulai dari 1-2 gram, sebagai langkah awal. "Begitu mendapat untung besar atau kecil, konversikan ke dalam bentuk emas kembali," ujar penulis buku Kemilau Investasi Emas ini.
Bagi mereka yang memiliki usaha pun sangat bisa berinvestasi emas. Misalnya seorang wirausahawan kecil atau penjual pakaian yang harus selalu menyiapkan stok barang. Ketika ada untung, sisihkan saja sebagian untuk membeli emas, selain untuk membeli stok barang. Namun, sebaiknya jangan memaksa membeli emas jika belum ada untung.
Memilih EmasMengapa harus emas? Menurut Ihsan, emas banyak digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara, dan cadangan devisa, selain dijadikan hanya sebagai perhiasan. "Bahkan, emas juga dijadikan sebagai alat pembayaran yang paling utama di dunia."
Di dunia, emas juga dipersepsikan sebagai logam mulia yang amat bernilai. Emas memiliki suplai terbatas, dengan permintaan yang tak terbatas. Sehingga, tak heran bila harga emas makin hari makin naik saja. Nilai mata uang boleh saja menurun terus, tetapi tidak pada emas. Berinvestasi emas juga tak tergantung kepada pihak ketiga. Hal inilah menjadi alasan orang berinvestasi emas.
Meski tetap ada ruginya, di saat kondisi ekonomi sedang terpuruk dan terjadi inflasi, harga emas rata-rata justru akan melonjak. "Semakin inflasi, harga emas justru semakin naik. Misalnya terjadi inflasi 10%, harga emas pasti akan naik sekitar 20%. Jadi kenaikannya hampir dua kali lipat."
Ketika terjadi inflasi, nilai mata uang akan turun, daya beli masyarakat pun ikut turun. Akibatnya, banyak orang harus punya uang lebih bila ingin membeli satu gram emas, bukan?
Menurut Ihsan, idelanya emas yang baik untuk disimpan adalah emas dalam bentuk batangan, karena free tax. Tetapi bagi kaum perempuan yang senang berhias, wajar jika memilih membeli emas dalam bentuk perhiasan, meski harganya harus kena pajak sebanyak 10%.
Lalu, di mana bisa membeli emas batangan? Perhiasan emas memang banyak tersedia di sejumlah toko emas yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan emas dalam bentuk batangan logam mulia atau koin dapat Anda beli dari PT Antam Logam Mulia. Mulai dari berat 1, 2, 2,5, 3, 5, 10, 25, 100, atau 250 gram, hingga 1 kg. Atau, Anda bisa membelinya di Kantor Pegadaian di mana saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar