Bisnis adalah salah satu alat investasi yang cukup populer. Banyak orang meraih financial freedom atau kebebasan finansial berkat bisnisnya yang sukses, karena hal inilah maka banyak orang yang ingin investasi bisnis. Ada dua macam bisnis yang bisa dijadikan investasi, yaitu :
Bisnis Franchise atau Bisnis Waralaba
Bisnis Baru
Mana yang lebih baik ? menurut saya kedua bisnis ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Banyak investor menganggap bahwa bisnis franchise lebih enak karena tinggal terima hasil. Hal ini diperkuat oleh penelitian di Amerika yang menyatakan bahwa tingkat keberhasilan bisnis franchise lebih tinggi dibandingkan bisnis baru. Tapi jangan lupa bahwa itu di Amerika, kalau di Indonesia lain lagi. Bisnis franchise di Indonesia baru booming beberapa tahun ini sehingga belum ada peraturan atau Undang-Undang yang kuat. Bahkan menurut salah satu ahli Franchise, Amir Karamoy, banyak franchisee yang mengeluh karena apa yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jadi sesuai petuah dari Amir Karamoy, Investigate before Investing atau Selidiki sebelum investasi. Jangan sampai bukannya profit malah loss.
Selasa, 12 Mei 2009
Berkilaunya Investasi Emas
Sebuah analisis yang dirilis tahun 2003 menyebutkan, pada 10-12 tahun mendatang harga emas akan mencapai 8.000 dollar AS per troy ounce. Harga itu diperkirakan akan terjadi pada 2013-2015 sehingga bila pada 2007 seseorang menginvestasikan Rp 200 juta untuk emas, maka pada 2013-2015 kelak ia akan memiliki emas senilai Rp 2,2 miliar. Dengan kata lain ia meraup untung dari kenaikan harga yang mencapai 1.112 persen.
Jika hal itu terjadi, maka tidak ada instrumen investasi yang bisa mengalahkan keperkasaan emas, bahkan deposito, saham, maupun ORI sekalipun. Konsultan manajemen sekaligus motivator ternama, Tung Desem Waringin, sejak dulu hingga kini selalu berpendapat bahwa emas merupakan investasi teraman dan paling menguntungkan. "Sejak 2002 saya sudah bilang emas itu investasi paling menguntungkan," katanya.
Pengusaha sukses itu bahkan "mencabut" investasinya di sektor infrastruktur untuk dialihkan ke emas. Ia bersikukuh bahwa tindakan yang dilakukannya benar meskipun banyak orang memilih sektor infrastruktur sebagai instrumen investasi utama. Hal itu karena tren emas sejak zaman dahulu hingga detik ini selalu mengalami kenaikan harga. Namun, untuk kondisi pasar saat ini, ia masih menyarankan calon investor untuk wait and see. "Saat ini pasar masih bergejolak, jadi lebih baik wait and see sebelum memutuskan untuk terjun ke emas," katanya. Tercatat kenaikan harga emas paling fantastis terjadi pada 2001 di mana pada saat yang sama mata uang kertas justru mengalami penurunan nilai. Proses kenaikan harga emas itu akan semakin dipercepat oleh laju inflasi dan abusing dollar AS saat ini. Itu karena emas tidak mempunyai efek inflasi atau zero inflation effect. Memang logam mulia bernama emas sepertinya tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Kemuliaan dan kemilaunya tetap saja memukau, termasuk bagi dunia investasi. Emas merupakan komoditas yang unik yang jumlahnya terbatas di dunia serta merupakan satu-satunya barang yang dapat ditambang di atas permukaan bumi. Emas juga merupakan alternatif uang kertas dengan daya beli yang abadi dan nilainya cenderung dipatok oleh pasar.
Kagak ada matinya
Pilihan investasi emas saat ini tetap dinilai paling menguntungkan dibandingkan opsi yang lain mengingat sifatnya yang "kebal" inflasi. "Investasi emas ibaratnya kagak ada matinya, alias selalu menguntungkan," kata pengamat ekonomi, A Tony Prasetiantono. Menurutnya, , berinvestasi emas sama sifatnya dengan menginvestasikan dana untuk membeli tanah dan properti di kota-kota tertentu di Indonesia, seperti Bali dan Yogyakarta, yang harganya terus-menerus naik. Emas juga sangat baik untuk diversifikasi investasi setelah memiliki investasi di saham, obligasi, reksadana, ataupun properti. Terlebih di beberapa negara penghasil emas belakangan ini mengalami penurunan produksi secara signifikan sehingga harga emas dipastikan akan selalu naik.
"Namun, investasi emas juga ada beberapa kelemahannya," kata Tony. Menurut dia, calon investor juga harus mempertimbangkan banyak hal untuk mulai menginvestasikan dananya dalam bentuk emas karena relatif tidak praktis atau sulit disimpan, berisiko hilang, dicuri atau dirampok, dan lain-lain. Selain itu, bila penyimpanan kurang baik memungkinkan terjadinya oksidasi dan perubahan warna. Khusus emas berbentuk koin kalau terjatuh sulit untuk di-treatment ulang dan bisa mengurangi harga. Kekurangan lain, return-nya relatif stabil dan kalah menggairahkan bila dibandingkan saham atau properti. Investasi emas juga sangat tidak disarankan untuk jangka pendek karena sifatnya sebagai pelindung nilai (hedging). "Oleh karena itu, emas biasanya menjadi salah satu pilihan portofolio yang favorable," katanya.
Pengamat investasi, Roy Sembel, dalam salah satu tulisannya mengatakan, permintaan emas akan melonjak bila terjadi dua hal, yaitu kondisi negara tidak menentu dan terjadi inflasi. "Jika kedua hal itu terjadi, maka ketertarikan investor terhadap emas akan naik karena emas dinilai paling aman untuk investasi," katanya.
Senada dikatakan pakar investasi Safir Senduk, yang berpendapat bahwa bila terjadi inflasi tinggi, maka harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi yang terjadi. Statistik menunjukkan, bila inflasi naik 10 persen, maka harga emas akan naik 13 persen. Jika inflasi naik 20 persen, emas akan naik menjadi 30 persen. Namun, bila inflasi 100 persen, maka emas akan melonjak 200 persen. Patut dipertimbangkan pula harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah bahkan ada kecenderungan menurun bila laju inflasi di bawah dua digit.
Diversifikasi emas
Tony Prasetiantono mengatakan, saat ini orang tidak harus menyimpan emas dalam bentuk fisik saat berinvestasi ,tetapi juga bisa menyimpannya dalam bentuk lain yang kini semakin bervariasi. Di antaranya dalam valas, saham, obligasi, dan lain-lain. "Investasi emas saat ini telah mengalami diversifikasi yang lebih luas," katanya. Bentuk emas paling umum adalah batangan menyerupai batu bara berkadar 95 persen atau 99 persen (24 karat). Jenis ini dinilai paling menguntungkan untuk investasi karena kapan pun dan di manapun dijual, harganya mengikuti standar internasional. Bentuk lain adalah koin yang ada baiknya saat membelinya pilih produk dari produsen ternama seperti Maples, Krands, atau Eagles.
Ada juga emas yang berbentuk perhiasan. Bentuk ini sebenarnya kurang menguntungkan untuk investasi karena investor harus menanggung harga pembuatan dan sifatnya subyektif sesuai selera. Koin emas ONH juga merupakan bentuk lain investasi emas. Hanya saja bentuk emas ini sifatnya lokal dan kurang mendapat perhatian dunia. Ada pula yang menawarkan tabungan berbentuk emas untuk keperluan investasi jangka panjang, misalnya Bank Syariah Mandiri dan HSBC Syariah.
Untuk membeli dan menjual emas bisa dilakukan di toko emas atau Perum Pegadaian. Sementara itu, untuk tren dan perkembangan harga emas dunia terkini dapat dilihat di situs Kitco, Gold Price, atau UBC Gold.
Sangat disarankan, investor membeli emas di PT Antam unit Pengelolaan dan Pemurnian Logam, Jalan Pemuda, Pulogadung, Jakarta Timur. Dan lebih disarankan lagi untuk selalu meneliti sertifikat berupa kertas kecil berhologram dan kuitansinya. Setelah itu cocokkan dengan fisik emas yang dibeli. Umumnya tercantum kode 9999 atau 24 karat, nomor seri, dan berat logam dengan cetakan tenggelam dan logo pembuatnya. Penyimpanan emas bila jumlahnya tidak banyak cukup ditempatkan di rumah. Namun, bila jumlahnya banyak dan untuk pertimbangan keamanan, investor dapat menyewa safe deposit box yang ada di setiap bank.
Di balik kemilau investasi emas yang menggiurkan, ada sebagian yang justru berpendapat bahwa emas bukan instrumen yang tepat untuk investasi. Emas cenderung merupakan alat spekulasi karena tidak menghasilkan revenue stream. Nilai emas hanya semata-mata tergantung pada persepsi yang mudah sekali berubah. Di luar itu emas adalah logam yang nyaris tidak berfaedah secara langsung.
Jika hal itu terjadi, maka tidak ada instrumen investasi yang bisa mengalahkan keperkasaan emas, bahkan deposito, saham, maupun ORI sekalipun. Konsultan manajemen sekaligus motivator ternama, Tung Desem Waringin, sejak dulu hingga kini selalu berpendapat bahwa emas merupakan investasi teraman dan paling menguntungkan. "Sejak 2002 saya sudah bilang emas itu investasi paling menguntungkan," katanya.
Pengusaha sukses itu bahkan "mencabut" investasinya di sektor infrastruktur untuk dialihkan ke emas. Ia bersikukuh bahwa tindakan yang dilakukannya benar meskipun banyak orang memilih sektor infrastruktur sebagai instrumen investasi utama. Hal itu karena tren emas sejak zaman dahulu hingga detik ini selalu mengalami kenaikan harga. Namun, untuk kondisi pasar saat ini, ia masih menyarankan calon investor untuk wait and see. "Saat ini pasar masih bergejolak, jadi lebih baik wait and see sebelum memutuskan untuk terjun ke emas," katanya. Tercatat kenaikan harga emas paling fantastis terjadi pada 2001 di mana pada saat yang sama mata uang kertas justru mengalami penurunan nilai. Proses kenaikan harga emas itu akan semakin dipercepat oleh laju inflasi dan abusing dollar AS saat ini. Itu karena emas tidak mempunyai efek inflasi atau zero inflation effect. Memang logam mulia bernama emas sepertinya tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Kemuliaan dan kemilaunya tetap saja memukau, termasuk bagi dunia investasi. Emas merupakan komoditas yang unik yang jumlahnya terbatas di dunia serta merupakan satu-satunya barang yang dapat ditambang di atas permukaan bumi. Emas juga merupakan alternatif uang kertas dengan daya beli yang abadi dan nilainya cenderung dipatok oleh pasar.
Kagak ada matinya
Pilihan investasi emas saat ini tetap dinilai paling menguntungkan dibandingkan opsi yang lain mengingat sifatnya yang "kebal" inflasi. "Investasi emas ibaratnya kagak ada matinya, alias selalu menguntungkan," kata pengamat ekonomi, A Tony Prasetiantono. Menurutnya, , berinvestasi emas sama sifatnya dengan menginvestasikan dana untuk membeli tanah dan properti di kota-kota tertentu di Indonesia, seperti Bali dan Yogyakarta, yang harganya terus-menerus naik. Emas juga sangat baik untuk diversifikasi investasi setelah memiliki investasi di saham, obligasi, reksadana, ataupun properti. Terlebih di beberapa negara penghasil emas belakangan ini mengalami penurunan produksi secara signifikan sehingga harga emas dipastikan akan selalu naik.
"Namun, investasi emas juga ada beberapa kelemahannya," kata Tony. Menurut dia, calon investor juga harus mempertimbangkan banyak hal untuk mulai menginvestasikan dananya dalam bentuk emas karena relatif tidak praktis atau sulit disimpan, berisiko hilang, dicuri atau dirampok, dan lain-lain. Selain itu, bila penyimpanan kurang baik memungkinkan terjadinya oksidasi dan perubahan warna. Khusus emas berbentuk koin kalau terjatuh sulit untuk di-treatment ulang dan bisa mengurangi harga. Kekurangan lain, return-nya relatif stabil dan kalah menggairahkan bila dibandingkan saham atau properti. Investasi emas juga sangat tidak disarankan untuk jangka pendek karena sifatnya sebagai pelindung nilai (hedging). "Oleh karena itu, emas biasanya menjadi salah satu pilihan portofolio yang favorable," katanya.
Pengamat investasi, Roy Sembel, dalam salah satu tulisannya mengatakan, permintaan emas akan melonjak bila terjadi dua hal, yaitu kondisi negara tidak menentu dan terjadi inflasi. "Jika kedua hal itu terjadi, maka ketertarikan investor terhadap emas akan naik karena emas dinilai paling aman untuk investasi," katanya.
Senada dikatakan pakar investasi Safir Senduk, yang berpendapat bahwa bila terjadi inflasi tinggi, maka harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi yang terjadi. Statistik menunjukkan, bila inflasi naik 10 persen, maka harga emas akan naik 13 persen. Jika inflasi naik 20 persen, emas akan naik menjadi 30 persen. Namun, bila inflasi 100 persen, maka emas akan melonjak 200 persen. Patut dipertimbangkan pula harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah bahkan ada kecenderungan menurun bila laju inflasi di bawah dua digit.
Diversifikasi emas
Tony Prasetiantono mengatakan, saat ini orang tidak harus menyimpan emas dalam bentuk fisik saat berinvestasi ,tetapi juga bisa menyimpannya dalam bentuk lain yang kini semakin bervariasi. Di antaranya dalam valas, saham, obligasi, dan lain-lain. "Investasi emas saat ini telah mengalami diversifikasi yang lebih luas," katanya. Bentuk emas paling umum adalah batangan menyerupai batu bara berkadar 95 persen atau 99 persen (24 karat). Jenis ini dinilai paling menguntungkan untuk investasi karena kapan pun dan di manapun dijual, harganya mengikuti standar internasional. Bentuk lain adalah koin yang ada baiknya saat membelinya pilih produk dari produsen ternama seperti Maples, Krands, atau Eagles.
Ada juga emas yang berbentuk perhiasan. Bentuk ini sebenarnya kurang menguntungkan untuk investasi karena investor harus menanggung harga pembuatan dan sifatnya subyektif sesuai selera. Koin emas ONH juga merupakan bentuk lain investasi emas. Hanya saja bentuk emas ini sifatnya lokal dan kurang mendapat perhatian dunia. Ada pula yang menawarkan tabungan berbentuk emas untuk keperluan investasi jangka panjang, misalnya Bank Syariah Mandiri dan HSBC Syariah.
Untuk membeli dan menjual emas bisa dilakukan di toko emas atau Perum Pegadaian. Sementara itu, untuk tren dan perkembangan harga emas dunia terkini dapat dilihat di situs Kitco, Gold Price, atau UBC Gold.
Sangat disarankan, investor membeli emas di PT Antam unit Pengelolaan dan Pemurnian Logam, Jalan Pemuda, Pulogadung, Jakarta Timur. Dan lebih disarankan lagi untuk selalu meneliti sertifikat berupa kertas kecil berhologram dan kuitansinya. Setelah itu cocokkan dengan fisik emas yang dibeli. Umumnya tercantum kode 9999 atau 24 karat, nomor seri, dan berat logam dengan cetakan tenggelam dan logo pembuatnya. Penyimpanan emas bila jumlahnya tidak banyak cukup ditempatkan di rumah. Namun, bila jumlahnya banyak dan untuk pertimbangan keamanan, investor dapat menyewa safe deposit box yang ada di setiap bank.
Di balik kemilau investasi emas yang menggiurkan, ada sebagian yang justru berpendapat bahwa emas bukan instrumen yang tepat untuk investasi. Emas cenderung merupakan alat spekulasi karena tidak menghasilkan revenue stream. Nilai emas hanya semata-mata tergantung pada persepsi yang mudah sekali berubah. Di luar itu emas adalah logam yang nyaris tidak berfaedah secara langsung.
Kamis, 26 Maret 2009
INVESTASI LEWAT BARANG KOLEKSI
Ke mana saja Anda pernah berinvestasi? Pertanyaan itu mungkin mudah sekali untuk Anda jawab. Yang pasti, saya rasa tabungan di bank pernah Anda jadikan tempat untuk berinvestasi.Tabungan? Bukankah tabungan adalah tempat menyimpan uang saja, dan bukan untuk investasi? Oh, tidak begitu menurut saya. Tabungan di Bank, selain tempat untuk menyimpan dana Anda sehari-hari, sebetulnya juga bisa Anda jadikan tempat berinvestasi. Jadi ada dua macam kegunaan orang dalam menggunakan tabungan di bank, pertama sebagai tempat menyimpan uang untuk kebutuhan dana sehari-hari, dan yang kedua adalah sebagai tempat investasi. Tergantung yang mana yang Anda pilih.Pendeknya, segala macam tempat yang bisa Anda taruh sejumlah dana dan bisa mendapatkan hasil investasi dari situ (baik berupa bunga maupun selisih harga jual dan beli), maka Anda layak menyebutkannya sebagai sebuah produk investasi. Termasuk produk tabungan di bank sekalipun.Apa lagi selain tabungan? Ada deposito. Deposito juga merupakan produk investasi yang mungkin sering Anda gunakan untuk membiakkan uang Anda, karena deposito dianggap sebagai produk yang sangat aman sepanjang bank Anda tidak bangkrut dan uang Anda dijamin.Tapi, selain tabungan dan deposito yang memang sudah populer, pernahkah Anda berpikir untuk berinvestasi ke dalam barang-barang koleksi?Barang-barang koleksi? Wah, jenis investasi apa lagi itu? Begitu mungkin Anda bertanya.Barang-barang koleksi adalah sebutan bagi barang-barang yang umumnya sering dikoleksi orang. Kenapa orang mau mengoleksinya? Sederhana saja. Salah satu sebabnya adalah karena barang-barang tersebut dianggap memiliki nilai khusus. Apa saja contoh barang yang dianggap memiliki nilai khusus itu? Oh, banyak sekali. Contoh salah satunya yang paling sering kita lihat adalah perangko.Memiliki Nilai Seni TersendiriNgomong-ngomong soal perangko, saya yakin hampir semua dari Anda tahu apa itu perangko. Bagi Anda yang rajin mengirim surat (termasuk mengirim surat ke NOVA), paling tidak pastilah menggunakan perangko. Kalau Anda perhatikan, perangko terdiri dari berbagai macam terbitan. Entah itu terbitan tahun 50-an, 60-an, 70-an, sampai tahun 2000 pun juga ada.Masing-masing terbitan memiliki tampilannya sendiri-sendiri. Namun demikian, kebanyakan perangko memiliki tampilan berupa gambar atau lukisan. Dengan demikian, melihat perangko sama ibaratnya seperti kita melihat lukisan dalam ukuran kecil. Karena itulah banyak sekali orang yang memutuskan untuk mengoleksi perangko, mengingat gambar-gambar yang ada di perangko memiliki nilai seni tersendiri sehingga orang-pun betah berlama-lama untuk melihat dan menikmati gambarnya.Apa lagi selain perangko? Lukisan...! lukisan juga memiliki nilai seni tersendiri bukan? Ada banyak sekali orang yang mengkoleksi lukisan, dan semuanya berasal dari berbagai macam harga, ada yang ratusan ribu, jutaan hingga puluhan juta rupiah.Apa lagi? Tidak harus barang-barang yang bergambar seperti perangko dan lukisan yang merupakan barang-barang yang memiliki nilai seni. Ada juga barang-barang yang dikoleksi karena memiliki bentuk dan tampilan khusus dan itu tidak harus berupa gambar. Pendeknya, segala macam barang yang memiliki nilai seni tersendiri bisa dijadikan barang-barang koleksi.Memiliki Nilai BersejarahSelain barang yang memiliki nilai seni tersendiri, ada juga barang-barang yang dikoleksi karena barang-barang tersebut memiliki nilai yang dianggap bersejarah. Contohnya adalah barang-barang peninggalan proklamator kemerdekaan kita. Wah, sering lho ada barang-barang koleksi Bung Karno yang diperjualbelikan di pasar bebas dengan harga yang luar biasa tingginya.Padahal barang tersebut mungkin sederhana saja, bisa berupa pulpen, buku, lemari, atau apa saja. Akan tetapi karena barang-barang tersebut tadinya dimiliki oleh Bung Karno sebagai tokoh yang sangat bersejarah, barang-barang tersebut seringkali menjadi rebutan para kolektor dan sering berpindah tangan dengan harga yang makin lama makin tinggi. Jadi sekali lagi, selain karena
window.google_render_ad();
adanya nilai seni tersendiri, tindakan mengkoleksi barang seringkali disebabkan karena barang-barang tersebut dianggap memiliki nilai bersejarah.Memiliki Usia Sangat TuaSelain itu, pengoleksian barang sering juga didasarkan karena umurnya. Banyak orang yang mengoleksi barang karena barang tersebut memiliki usia yang cukup tua. Bahkan, makin tua usia barang tersebut, bisa jadi akan makin mahal harga barang tersebut. Apa contoh barang-barang yang dikoleksi karena usianya? Beberapa diantaranya adalah guci antik, meja antik, kursi antik, dan lain sebagainya.Namun demikian perlu diketahui bahwa tidak semua barang-barang yang berusia tua memiliki nilai khusus dan dikoleksi oleh orang banyak, mengingat bahwa itu semua sangat tergantung pada persepsi orang terhadap barang tersebut.Karenanya, dari beberapa macam anggapan terhadap nilai khusus tersebut, dibawah ini adalah contoh barang-barang yang bisa dikoleksi: * Barang-barang seni (lukisan, patung) * Barang-barang kerajinan (keramik, batik) * Barang-barang aksesori (arloji) * Barang-barang perhiasan (kalung, gelang) * Barang-barang sejarah (benda peninggalan)Jadi pada prinsipnya, hampir semua barang bisa dikoleksi. Nah, barang-barang koleksi inilah yang bisa dijadikan investasi.BEDAKOLEKTOR DAN INVESTORInvestasi? Lho, jadi apa bedanya melakukan investasi dengan mengoleksi? Jelas beda. Di sini saya ingin memperkenalkan Anda kepada sebutan Kolektor dan Investor :"Kolektor" adalah sebutan bagi orang yang gemar mengoleksi barang tertentu. Tujuannya mengoleksi barang adalah (mungkin) untuk kepuasan batin, gengsi, dianggap memiliki selera yang baik, atau apa pun itu. Seorang kolektor membeli barang untuk dimiliki kalau bisa selamanya.Sedangkan "Investor" adalah sebutan bagi orang yang mengoleksi barang hanya untuk dijual lagi demi mendapatkan keuntungan. Jadi, kalau kolektor membeli barang untuk dimiliki, sedangkan investor membeli barang untuk kemudian kelak bisa dijual kembali, bisa kepada kolektor atau sesama investor juga.Pendeknya, seorang kolektor adalah pembeli, sedangkan investor adalah orang yang berinvestasi.Bila Anda tertarik untuk berinvestasi ke dalam barang-barang koleksi, di bawah ini adalah tips yang mungkin perlu Anda ketahui : 1. Berinvestasilah ke dalam barang-barang yang memang Anda kenal dan kuasai seluk beluknya. Dengan demikian, Anda bisa tahu dengan pasti tentang segala macam hal yang menyangkut barang-barang koleksi Anda, seperti berapa harga pantasnya, ke mana bisa menjualnya, di mana bisa membelinya, dan seterusnya. 2. Jangan jatuh cinta pada barang koleksi Anda. Bila Anda jatuh cinta pada barang koleksi Anda, bisa-bisa Anda akan berat hati bila ingin menjualnya kembali. Padahal bila Anda adalah seorang investor, Anda toh harus menjual barang koleksi Anda kembali untuk mendapatkan keuntungan kan? INVESTASI MAHAL?Banyak orang beranggapan bahwa investasi pada barang-barang koleksi adalah investasi yang tergolong mahal. Pernyataan itu tidak selalu benar.Jangan lupa bahwa setiap barang memiliki harga awal-nya sendiri. Sebuah perangko terbitan tahun 2000 yang sekarang ini berharga katakan Rp 1.000 dan sudah dipakai, bisa jadi 10 atau 20 tahun kelak menjadi barang koleksi yang bisa diperjualbelikan dengan harga ratusan ribu rupiah. Jadi pertanyaannya sekarang, pada harga berapa Anda membeli barang koleksi tersebut? Pada harga awalnya (ketika dia masih "murah"), atau pada harga yang memang sudah tinggi?Sekarang, bagaimana dengan barang-barang di sekitar Anda? Bisa jadi barang-barang yang tadinya Anda pikir biasa saja, 10 atau 20 tahun kemudian menjadi tinggi sekali harganya karena barang tersebut memiliki nilai keindahan yang luar biasa. Siapa tahu?Jadi, pasang mata dan telinga Anda, siapa tahu ada barang-barang tertentu di sekitar Anda yang nantinya bisa berharga tinggi. Dan yang jelas, investasi pada barang-barang koleksi tidak selalu merupakan investasi mahal, karena hal itu sangat bergantung pada harga berapa Anda membeli barang tersebut, apakah ketika harganya masih murah atau sudah mahal.Selamat berinvestasi pada barang-barang koleksi.
window.google_render_ad();
adanya nilai seni tersendiri, tindakan mengkoleksi barang seringkali disebabkan karena barang-barang tersebut dianggap memiliki nilai bersejarah.Memiliki Usia Sangat TuaSelain itu, pengoleksian barang sering juga didasarkan karena umurnya. Banyak orang yang mengoleksi barang karena barang tersebut memiliki usia yang cukup tua. Bahkan, makin tua usia barang tersebut, bisa jadi akan makin mahal harga barang tersebut. Apa contoh barang-barang yang dikoleksi karena usianya? Beberapa diantaranya adalah guci antik, meja antik, kursi antik, dan lain sebagainya.Namun demikian perlu diketahui bahwa tidak semua barang-barang yang berusia tua memiliki nilai khusus dan dikoleksi oleh orang banyak, mengingat bahwa itu semua sangat tergantung pada persepsi orang terhadap barang tersebut.Karenanya, dari beberapa macam anggapan terhadap nilai khusus tersebut, dibawah ini adalah contoh barang-barang yang bisa dikoleksi: * Barang-barang seni (lukisan, patung) * Barang-barang kerajinan (keramik, batik) * Barang-barang aksesori (arloji) * Barang-barang perhiasan (kalung, gelang) * Barang-barang sejarah (benda peninggalan)Jadi pada prinsipnya, hampir semua barang bisa dikoleksi. Nah, barang-barang koleksi inilah yang bisa dijadikan investasi.BEDAKOLEKTOR DAN INVESTORInvestasi? Lho, jadi apa bedanya melakukan investasi dengan mengoleksi? Jelas beda. Di sini saya ingin memperkenalkan Anda kepada sebutan Kolektor dan Investor :"Kolektor" adalah sebutan bagi orang yang gemar mengoleksi barang tertentu. Tujuannya mengoleksi barang adalah (mungkin) untuk kepuasan batin, gengsi, dianggap memiliki selera yang baik, atau apa pun itu. Seorang kolektor membeli barang untuk dimiliki kalau bisa selamanya.Sedangkan "Investor" adalah sebutan bagi orang yang mengoleksi barang hanya untuk dijual lagi demi mendapatkan keuntungan. Jadi, kalau kolektor membeli barang untuk dimiliki, sedangkan investor membeli barang untuk kemudian kelak bisa dijual kembali, bisa kepada kolektor atau sesama investor juga.Pendeknya, seorang kolektor adalah pembeli, sedangkan investor adalah orang yang berinvestasi.Bila Anda tertarik untuk berinvestasi ke dalam barang-barang koleksi, di bawah ini adalah tips yang mungkin perlu Anda ketahui : 1. Berinvestasilah ke dalam barang-barang yang memang Anda kenal dan kuasai seluk beluknya. Dengan demikian, Anda bisa tahu dengan pasti tentang segala macam hal yang menyangkut barang-barang koleksi Anda, seperti berapa harga pantasnya, ke mana bisa menjualnya, di mana bisa membelinya, dan seterusnya. 2. Jangan jatuh cinta pada barang koleksi Anda. Bila Anda jatuh cinta pada barang koleksi Anda, bisa-bisa Anda akan berat hati bila ingin menjualnya kembali. Padahal bila Anda adalah seorang investor, Anda toh harus menjual barang koleksi Anda kembali untuk mendapatkan keuntungan kan? INVESTASI MAHAL?Banyak orang beranggapan bahwa investasi pada barang-barang koleksi adalah investasi yang tergolong mahal. Pernyataan itu tidak selalu benar.Jangan lupa bahwa setiap barang memiliki harga awal-nya sendiri. Sebuah perangko terbitan tahun 2000 yang sekarang ini berharga katakan Rp 1.000 dan sudah dipakai, bisa jadi 10 atau 20 tahun kelak menjadi barang koleksi yang bisa diperjualbelikan dengan harga ratusan ribu rupiah. Jadi pertanyaannya sekarang, pada harga berapa Anda membeli barang koleksi tersebut? Pada harga awalnya (ketika dia masih "murah"), atau pada harga yang memang sudah tinggi?Sekarang, bagaimana dengan barang-barang di sekitar Anda? Bisa jadi barang-barang yang tadinya Anda pikir biasa saja, 10 atau 20 tahun kemudian menjadi tinggi sekali harganya karena barang tersebut memiliki nilai keindahan yang luar biasa. Siapa tahu?Jadi, pasang mata dan telinga Anda, siapa tahu ada barang-barang tertentu di sekitar Anda yang nantinya bisa berharga tinggi. Dan yang jelas, investasi pada barang-barang koleksi tidak selalu merupakan investasi mahal, karena hal itu sangat bergantung pada harga berapa Anda membeli barang tersebut, apakah ketika harganya masih murah atau sudah mahal.Selamat berinvestasi pada barang-barang koleksi.
Cara Mendidik Si Kecil Soal Uang

Kapan sih sebaiknya mengenalkan uang pada Si Kecil? Sebaiknya, anak memang diajari soal uang sejak kecil! Uang, mampu membuat orang - baik tua maupun muda - mengambil keputusan atas berbagai kesempatan. Dengan mendidik, memotivasi, dan memberi kepercayaan pada anak untuk berhemat dan menjadi investor, bisa membuatnya mampu menabungkan penghasilan yang diperolehnya, serta melakukan banyak hal dengan uang yang dikeluarkannya.Keputusan memberi pengeluaran harian akan berdampak negatif lebih besar pada masa depan keuangan anak-anak, jika dibandingkan dengan keputusan untuk menginvestasikannya. Nah, berikut ini ada 15 cara sederhana yang bisa membantu Anda mendidik Si Kecil: KEUANGAN PRIBADI DAN PENGELOALAANNYA1. Begitu anak sudah bisa berhitung, perkenalkan uang padanya. Ambil peran aktif dan berikan informasi padanya. Memberi perhatian kontinyu merupakan cara penting bagi anak untuk belajar.2. Komunikasikan kepada anak, sesuai usianya, cara Anda menghargai uang seperti cara menyimpan, membuat jadi bertambah, dan terpenting lagi, cara bijak membelanjakannya.3. Bantu anak untuk membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan harapan. Hal ini untuk menyiapkan agar ia bisa mengambil keputusan yang tepat dalam membelanjakan uang kelak.4. Mengatur target adalah dasar pembelajaran atas nilai uang dan menabung. Setiap orang, baik tua maupun muda, jarang bisa mencapai target yang tak diatur sebelumnya. Hampir semua mainan atau barang yang diminta anak bisa menjadi obyek dari sesi pengaturan target, misalnya membantu anak belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.5. Kenalkan pada anak nilai menghemat versus membelanjakannya. Jelaskan dan perlihatkan konsep "bunga" dari menabung. Pertimbangkan untuk memberi bunga pada uang yang disimpannya di rumah. Ia bisa membantu menghitung bunga dan melihat bagaimana uang bisa berlipat ganda karena bunga. Selanjutnya, ia akan mengerti cara tercepat untuk menambah jumlah uang, yaitu dengan menabung secara teratur. UANG SAKU DAN CARA MENGGUNAKANNYA6. Ketika memberi uang saku pada anak, berikanlah dalam bentuk recehan agar ia bisa menabung. Misalnya, uang saku mingguannya Rp 25 ribu, berikan dalam bentuk 5 lembar uang Rp 5 ribu agar memudahkannya untuk langsung menyimpannya sebagian. Dari awal Anda bisa menentukan jumlah bunga untuk jumlah uang tertentu, sehingga ia bisa belajar dan merasakan manfaatnya.7. Ajak anak ke bank untuk membuka tabungan atas namanya sendiri. Ingat, jangan melarangnya mengambil uang untuk membeli barang yang diinginkannya. Dengan melarang, justru akan membuatnya jadi tak ingin menabung.8. Membuat cacatan rapi soal tabungan, investasi, dan pengeluaran merupakan keterampilan lain yang penting diajarkan pada anak. Untuk memudahkannya, gunakan 12 amplop. 1 amplop per bulan, dan masukkan ke dalam 1 amplop besar. Tetapkan sistem ini bagi setiap anak. Anjurkan agar ia menyimpan kuitansi belanja dan menyimpannya dalam amplop, serta mencatat semua yang ia lakukan dengan uangnya.9. Gunakan kesempatan berbelanja mingguan atau bulanan untuk mengenalkan nilai uang dan pengeluaran pada anak. 1/3 gaji Anda dipergunakan untuk makan dan keperluan rumah tangga. Jadi, ajarkan ia cara bijak berbelanja, misalnya membeli barang diskon, menggunakan vocer, atau membedakan harga dan isi barang yang dibeli. Jelaskan cara menyusun rencana belanja dan membuat perbandingan harga untuk barang yang sama di toko berbeda. Perlihatkan juga cara mengecek nilai, kualitas, jaminan, dan pertimbangan lainnya. Mengeluarkan uang bisa menyenangkan dan sangat produktif jika direncanakan secara baik. Pengeluaran yang tak direncanakan, biasanya akan menjadi pemborosan.10. Beri kesempatan pada anak untuk memutuskan apa yang akan dibelinya. Bagus atau tidaknya, ia akan belajar dari pilihan belanjanya. Namun, sebelumnya Anda harus membahasnya dulu soal pro dan kontra dalam berbelanja. Bantu anak menggunakan kepekaan dan logikanya saat berbelanja. Artinya, teliti sebelum membeli, terutama untuk barang yang mahal, agar menunggu waktu yang tepat dan gunakan teknik pilihan membeli. BIJAK DALAM BERBELANJA11. Perlihatkan pada anak cara menilai iklan yang ditayangkan di teve, radio, dan koran. Apakah suatu produk memang sebagus iklannya, harganya benar murah, atau adakah pilihan produk lain yang lebih murah dan lebih baik? Ingatkan anak agat tak terjebak iklan yang sangat menarik.12. Ingatkan anak soal bahaya meminjam uang yang dikenakan bunga. Jika Anda mengajarkan bunga pada pinjaman kecil, ia akan cepat belajar, betapa mahalnya meminjam uang dari pihak lain, dan harus mengembalikannya (termasuk bunganya) dalam waktu yang ditentukan.13. Ketika menggunakan kartu kredit di restoran, ambil momen ini untuk mengajarkan pada anak soal cara kerja kartu kredit. Jelaskan juga, bagaimana memeriksa biaya, menghitung tip, dan menjaga kartu kredit dari penipuan.14. Hati-hati bila Anda memberikan kartu kredit pada anak, meskipun ia sudah mahasiswa. Kartu kredit selalu menggoda pemegangnya untuk berbelanja. Penelitian menunjukkan, sebagian besar mahasiswa tak menggunakan kartu kreditnya untuk keperluan darurat, melainkan untuk hal-hal sekunder. Di akhir semester, ia baru menyadari hutang kartu kreditnya menumpuk sehingga terpaksa harus bekerja agar bisa menutupi pembayaran kartu kreditnya.15. Tetapkan jadwal rapat rutin keluarga untuk membahas masalah keuangan. Bagi anak yang masih kecil, rapat ini mungkin terdengar seperti akan mendapatkan bunga dari uang tabungannya.Topik lain yang perlu dibicarakan adalah soal perbedaan antara uang tunai, cek dan kartu kredit, cara bijak berbelanja, serta cara menghindari penggunaan kredit dan perkembangan investasi. Bagi anak remaja, perlu dibicarakan juga soal situasi perekonomian negara, cara berhemat, dan alternatif berbelanja. Semua informasi ini akan sangat berguna bagi anak, seiring pertambahan tanggung jawabnya sebagai manusia dewasa.Aline
Rabu, 25 Maret 2009
Investasi Emas: Nilainya Tak Pernah Turun (2)

Seperti barang investasi pada umumnya, emas juga butuh ekstra kehati-hatian dalam menyimpannya.
Aman Simpan EmasAgar aman menyimpan emas, sebaiknya disimpan di tempat paling aman di dalam rumah, misalnya di dalam lemari dengan brankas. Anda pun boleh saja menyimpannya di dalam SDB (safe deposit box) di bank, dengan dua orang pemilik kunci, yaitu Anda sebagai penyewa SDB dan petugas bank. Namun, biasnaya si petugas tak akan tahu apa yang Anda simpan, sehingga khawatir tak akan diasuransikan.
Jadi, jika terjadi perampokan di bank itu, Anda tak akan mendapat ganti rugi, karena bank hanya mengganti dua kali dari biaya simpannya saja. Misalnya, biaya simpan SDB Rp 700 ribu, jika terjadi kebakaran atau pencurian, hanya diganti dua kalinya sebesar Rp 1,4 juta. "Bayangkan jika yang disimpan adalah emas seberat 100 kg. Berapa besar kerugiannya?"
Selain di bank, Anda pun bisa memercayakan penyimpanan emas di Kantor Pegadaian, dengan biaya lebih murah. "Misalnya, Anda punya emas bernilai Rp 10 juta. Gadaikan saja emas itu dengan pinjaman Rp 100 ribu. Selain aman disimpan dengan jangka waktu 4 bulan, emas Anda juga diasuransikan." Biayanya juga lebih murah. Bila terja kehilangan barang, nilai emasnya akan diganti sebesar 125% dari nilai taksiran.
Emas CinaDi samping emas, apakah perak juga layak diinvestasikan? Menurut Ihsan, nilai perak akan mengalamin kenaikan dan penurunan alias tidak stabil, sementara nilai emas akan terus menanjak.
Pasar untuk perdagangan dan penjulan perak juga belum seefisien seperti halnya emas. Ihsan juga mengaku, banyak hikmah yang dapat diambil dari berinvestasi emas. "And bisa jadi lebih mandiri, karena tak bergantung kepada siapapun. Emas juga bisa untuk modal usaha, atau membantu hidup Anda ketika sedang dalam keadaan terdesak."
Namun hati-hati, Ihsan mengingatkan soal maraknya penjualan emas dari Cina, yang bisa bisa menipu mata alias imitasi. Emas asli 24 karat tetap yang terbaik. Maraknya emas Cina ini dikarenakan adanya pergeseran nilai emas yang tinggi, sehingga banyak orang lalu beralih memilih emas imitasi produksi Cina, yang harganya tak terlalu mahal.
"Halusnya sama dan harganya pun mendekati harga emas asli, sehingga banyak yang percaya saja. Kurangnya pengetahuan masyarakat berakibat pada pembelian emas imitasi tadi," kata Ihsan. Nah, agar tak tertipu, Anda bisa minta bantuan petugas yang paham, misalnya dari Kantor Pegadaian, untuk mengecek keaslian dari emas yang Anda beli. Ayo, mulailah berinvestasi emas!
Memulai Investasi EmasSebelum memulai berinvestasi emas, ada baiknya pelajari dulu informasi berikut!1. Pelajari kenapa emas amat bernilai.Emas mempunyai manfaat fungsional sebagai alat investasi dan merupakan alat pembayaran yang paling utama di dunia.
2. Kenapa harus memilih investasi emas.Emas mempunyai suplai terbatas, sementara permintaan yang tidak terbatas sehingga harga emas makin hari akan makin naik.
3. Emas memiliki daya ketertarikan di seluruh dunia.Emas juga banyak digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara, sebagai cadangan devisa..4. Kapan waktu tepat menjual emas.Jika ingin menjual emas yang sudah terkumpul, pastikan hasilnya digunakan untuk sesuatu yang produktif (mengandung faktor produksi). Sehingga, hasil dari faktor produksi tadi dapat dibelikan emas untuk diinvestasikan kembali.
5. Memiliki tujuan ketika membeli emas.Ketika memilih untuk berinvestasi emas, sebaiknya harus diawali dengan tujuan dan niat yang jelas. Misalnya, untuk menunaikan ibadah haji, modal usaha, atau menyekolahkan anak di luar negeri.
Aman Simpan EmasAgar aman menyimpan emas, sebaiknya disimpan di tempat paling aman di dalam rumah, misalnya di dalam lemari dengan brankas. Anda pun boleh saja menyimpannya di dalam SDB (safe deposit box) di bank, dengan dua orang pemilik kunci, yaitu Anda sebagai penyewa SDB dan petugas bank. Namun, biasnaya si petugas tak akan tahu apa yang Anda simpan, sehingga khawatir tak akan diasuransikan.
Jadi, jika terjadi perampokan di bank itu, Anda tak akan mendapat ganti rugi, karena bank hanya mengganti dua kali dari biaya simpannya saja. Misalnya, biaya simpan SDB Rp 700 ribu, jika terjadi kebakaran atau pencurian, hanya diganti dua kalinya sebesar Rp 1,4 juta. "Bayangkan jika yang disimpan adalah emas seberat 100 kg. Berapa besar kerugiannya?"
Selain di bank, Anda pun bisa memercayakan penyimpanan emas di Kantor Pegadaian, dengan biaya lebih murah. "Misalnya, Anda punya emas bernilai Rp 10 juta. Gadaikan saja emas itu dengan pinjaman Rp 100 ribu. Selain aman disimpan dengan jangka waktu 4 bulan, emas Anda juga diasuransikan." Biayanya juga lebih murah. Bila terja kehilangan barang, nilai emasnya akan diganti sebesar 125% dari nilai taksiran.
Emas CinaDi samping emas, apakah perak juga layak diinvestasikan? Menurut Ihsan, nilai perak akan mengalamin kenaikan dan penurunan alias tidak stabil, sementara nilai emas akan terus menanjak.
Pasar untuk perdagangan dan penjulan perak juga belum seefisien seperti halnya emas. Ihsan juga mengaku, banyak hikmah yang dapat diambil dari berinvestasi emas. "And bisa jadi lebih mandiri, karena tak bergantung kepada siapapun. Emas juga bisa untuk modal usaha, atau membantu hidup Anda ketika sedang dalam keadaan terdesak."
Namun hati-hati, Ihsan mengingatkan soal maraknya penjualan emas dari Cina, yang bisa bisa menipu mata alias imitasi. Emas asli 24 karat tetap yang terbaik. Maraknya emas Cina ini dikarenakan adanya pergeseran nilai emas yang tinggi, sehingga banyak orang lalu beralih memilih emas imitasi produksi Cina, yang harganya tak terlalu mahal.
"Halusnya sama dan harganya pun mendekati harga emas asli, sehingga banyak yang percaya saja. Kurangnya pengetahuan masyarakat berakibat pada pembelian emas imitasi tadi," kata Ihsan. Nah, agar tak tertipu, Anda bisa minta bantuan petugas yang paham, misalnya dari Kantor Pegadaian, untuk mengecek keaslian dari emas yang Anda beli. Ayo, mulailah berinvestasi emas!
Memulai Investasi EmasSebelum memulai berinvestasi emas, ada baiknya pelajari dulu informasi berikut!1. Pelajari kenapa emas amat bernilai.Emas mempunyai manfaat fungsional sebagai alat investasi dan merupakan alat pembayaran yang paling utama di dunia.
2. Kenapa harus memilih investasi emas.Emas mempunyai suplai terbatas, sementara permintaan yang tidak terbatas sehingga harga emas makin hari akan makin naik.
3. Emas memiliki daya ketertarikan di seluruh dunia.Emas juga banyak digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara, sebagai cadangan devisa..4. Kapan waktu tepat menjual emas.Jika ingin menjual emas yang sudah terkumpul, pastikan hasilnya digunakan untuk sesuatu yang produktif (mengandung faktor produksi). Sehingga, hasil dari faktor produksi tadi dapat dibelikan emas untuk diinvestasikan kembali.
5. Memiliki tujuan ketika membeli emas.Ketika memilih untuk berinvestasi emas, sebaiknya harus diawali dengan tujuan dan niat yang jelas. Misalnya, untuk menunaikan ibadah haji, modal usaha, atau menyekolahkan anak di luar negeri.
Investasi Emas: Nilainya Tak Pernah Turun

Generasi masa lalu, seperti orangtua kita, banyak yang memilih menyimpan emas daripada menabung. Menyimpan emas memang menguntungkan, karena nilainya tak pernah turun.
Ketika masih kecil, Sita selalu heran mengapa ibunya sering membelikan uangnya dengan emas ketimbang menabungnya di bank. Sita baru mengerti setelah dewasa, ternyata emas simpanan sang bunda dapat menyelamatkan ibunya. Ketika ibunya yang sudah renta jatuh sakit, emas simpanan tadi kemudian dijual dengan harga tinggi, untuk membayar biaya rumah sakit tyang tak sedikit.
Begitulah, emas mempunyai berbagai aspek yang menyentuh kebutuhan manusia, selain tentu saja dapat dinikmati keindahannya dari sisi fisiknya yang berkilauan. Lebih jauh lagi, emas pun dapat dijadikan investasi, karena setiap saat nilainya akan selalu naik dan naik.
"Nilai emas di saat stabil, akan cenderung aman untuk diinvestasikan, dan dapat dikelola sendiri," papar Mohamad Ihsan Palaloi, Konsultan Investasi Emas sekaligus pengelola website www.investasi-emas.com dan www.investasi-emas.info.
Dalam teori berinvestasi, lanjut Ihsan, ada investasi yang dikelola sendiri (simpan emas, membeli properti, atau membuka usaha kecil) dan investasi yang dikelola orang lain. Sebaiknya, bila ingin berinvestasi yang dikelola orang lain, Anda harus dapat mengelola investasi sendiri terlebih dulu dengan baik.
Sayangnya, banyak yang belum mengerti tentang mengelola investasi ini. Kebanyakan orang justru terburu-buru memilih investasi yang dikelola orang lain terlebih dulu ketimbang mengelola investasi sendiri. Akibatnya, jika salah mengembangkan, Anda akan gagal dalam berinvestasi.
Memutar EmasSalah satu bentuk investasi yang dapat dikelola sendiri adalah menyimpan emas, sebagai investasi jangka panjang. Emas dapat dikelola sendiri, karena tak bergantung kepada orang lain. "Emas merupakan faktor produksi, jadi ketika dijual lagi, harus bisa produktif menghasilkan kembali. Misalnya berniat untuk melakukan hal-hal yang sifatnya strategis seperti beribadah haji atau membuka usaha."
Jika dari hasil menjual emas Anda sudah bisa membeli kios, itu artinya emas yang Anda simpan dapat dijadikan faktor produksi kembali. Namun, jika kios sudah ada tapi belum siap berjualan, Anda bisa menyewakan kios itu dulu. Hasil sewanya, bisa dibelikan emas lagi. Atau, sertifikat kios digadaikan ke bank, dan uangnya dapat Anda belikan emas lagi.
Emas dapat diputar untuk menghasilkan sesuatu.Dan tak perlu khawatiran tak bisa mengelola emas, karena siapa pun bisa, kok, melakukannya. Caranya, sisihkan 1/3 dari gaji bersih ke dalam bentuk emas (membeli emas). Atau, kummpulkan koin-koin emas mulai dari 1-2 gram, sebagai langkah awal. "Begitu mendapat untung besar atau kecil, konversikan ke dalam bentuk emas kembali," ujar penulis buku Kemilau Investasi Emas ini.
Bagi mereka yang memiliki usaha pun sangat bisa berinvestasi emas. Misalnya seorang wirausahawan kecil atau penjual pakaian yang harus selalu menyiapkan stok barang. Ketika ada untung, sisihkan saja sebagian untuk membeli emas, selain untuk membeli stok barang. Namun, sebaiknya jangan memaksa membeli emas jika belum ada untung.
Memilih EmasMengapa harus emas? Menurut Ihsan, emas banyak digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara, dan cadangan devisa, selain dijadikan hanya sebagai perhiasan. "Bahkan, emas juga dijadikan sebagai alat pembayaran yang paling utama di dunia."
Di dunia, emas juga dipersepsikan sebagai logam mulia yang amat bernilai. Emas memiliki suplai terbatas, dengan permintaan yang tak terbatas. Sehingga, tak heran bila harga emas makin hari makin naik saja. Nilai mata uang boleh saja menurun terus, tetapi tidak pada emas. Berinvestasi emas juga tak tergantung kepada pihak ketiga. Hal inilah menjadi alasan orang berinvestasi emas.
Meski tetap ada ruginya, di saat kondisi ekonomi sedang terpuruk dan terjadi inflasi, harga emas rata-rata justru akan melonjak. "Semakin inflasi, harga emas justru semakin naik. Misalnya terjadi inflasi 10%, harga emas pasti akan naik sekitar 20%. Jadi kenaikannya hampir dua kali lipat."
Ketika terjadi inflasi, nilai mata uang akan turun, daya beli masyarakat pun ikut turun. Akibatnya, banyak orang harus punya uang lebih bila ingin membeli satu gram emas, bukan?
Menurut Ihsan, idelanya emas yang baik untuk disimpan adalah emas dalam bentuk batangan, karena free tax. Tetapi bagi kaum perempuan yang senang berhias, wajar jika memilih membeli emas dalam bentuk perhiasan, meski harganya harus kena pajak sebanyak 10%.
Lalu, di mana bisa membeli emas batangan? Perhiasan emas memang banyak tersedia di sejumlah toko emas yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan emas dalam bentuk batangan logam mulia atau koin dapat Anda beli dari PT Antam Logam Mulia. Mulai dari berat 1, 2, 2,5, 3, 5, 10, 25, 100, atau 250 gram, hingga 1 kg. Atau, Anda bisa membelinya di Kantor Pegadaian di mana saja.
Ketika masih kecil, Sita selalu heran mengapa ibunya sering membelikan uangnya dengan emas ketimbang menabungnya di bank. Sita baru mengerti setelah dewasa, ternyata emas simpanan sang bunda dapat menyelamatkan ibunya. Ketika ibunya yang sudah renta jatuh sakit, emas simpanan tadi kemudian dijual dengan harga tinggi, untuk membayar biaya rumah sakit tyang tak sedikit.
Begitulah, emas mempunyai berbagai aspek yang menyentuh kebutuhan manusia, selain tentu saja dapat dinikmati keindahannya dari sisi fisiknya yang berkilauan. Lebih jauh lagi, emas pun dapat dijadikan investasi, karena setiap saat nilainya akan selalu naik dan naik.
"Nilai emas di saat stabil, akan cenderung aman untuk diinvestasikan, dan dapat dikelola sendiri," papar Mohamad Ihsan Palaloi, Konsultan Investasi Emas sekaligus pengelola website www.investasi-emas.com dan www.investasi-emas.info.
Dalam teori berinvestasi, lanjut Ihsan, ada investasi yang dikelola sendiri (simpan emas, membeli properti, atau membuka usaha kecil) dan investasi yang dikelola orang lain. Sebaiknya, bila ingin berinvestasi yang dikelola orang lain, Anda harus dapat mengelola investasi sendiri terlebih dulu dengan baik.
Sayangnya, banyak yang belum mengerti tentang mengelola investasi ini. Kebanyakan orang justru terburu-buru memilih investasi yang dikelola orang lain terlebih dulu ketimbang mengelola investasi sendiri. Akibatnya, jika salah mengembangkan, Anda akan gagal dalam berinvestasi.
Memutar EmasSalah satu bentuk investasi yang dapat dikelola sendiri adalah menyimpan emas, sebagai investasi jangka panjang. Emas dapat dikelola sendiri, karena tak bergantung kepada orang lain. "Emas merupakan faktor produksi, jadi ketika dijual lagi, harus bisa produktif menghasilkan kembali. Misalnya berniat untuk melakukan hal-hal yang sifatnya strategis seperti beribadah haji atau membuka usaha."
Jika dari hasil menjual emas Anda sudah bisa membeli kios, itu artinya emas yang Anda simpan dapat dijadikan faktor produksi kembali. Namun, jika kios sudah ada tapi belum siap berjualan, Anda bisa menyewakan kios itu dulu. Hasil sewanya, bisa dibelikan emas lagi. Atau, sertifikat kios digadaikan ke bank, dan uangnya dapat Anda belikan emas lagi.
Emas dapat diputar untuk menghasilkan sesuatu.Dan tak perlu khawatiran tak bisa mengelola emas, karena siapa pun bisa, kok, melakukannya. Caranya, sisihkan 1/3 dari gaji bersih ke dalam bentuk emas (membeli emas). Atau, kummpulkan koin-koin emas mulai dari 1-2 gram, sebagai langkah awal. "Begitu mendapat untung besar atau kecil, konversikan ke dalam bentuk emas kembali," ujar penulis buku Kemilau Investasi Emas ini.
Bagi mereka yang memiliki usaha pun sangat bisa berinvestasi emas. Misalnya seorang wirausahawan kecil atau penjual pakaian yang harus selalu menyiapkan stok barang. Ketika ada untung, sisihkan saja sebagian untuk membeli emas, selain untuk membeli stok barang. Namun, sebaiknya jangan memaksa membeli emas jika belum ada untung.
Memilih EmasMengapa harus emas? Menurut Ihsan, emas banyak digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara, dan cadangan devisa, selain dijadikan hanya sebagai perhiasan. "Bahkan, emas juga dijadikan sebagai alat pembayaran yang paling utama di dunia."
Di dunia, emas juga dipersepsikan sebagai logam mulia yang amat bernilai. Emas memiliki suplai terbatas, dengan permintaan yang tak terbatas. Sehingga, tak heran bila harga emas makin hari makin naik saja. Nilai mata uang boleh saja menurun terus, tetapi tidak pada emas. Berinvestasi emas juga tak tergantung kepada pihak ketiga. Hal inilah menjadi alasan orang berinvestasi emas.
Meski tetap ada ruginya, di saat kondisi ekonomi sedang terpuruk dan terjadi inflasi, harga emas rata-rata justru akan melonjak. "Semakin inflasi, harga emas justru semakin naik. Misalnya terjadi inflasi 10%, harga emas pasti akan naik sekitar 20%. Jadi kenaikannya hampir dua kali lipat."
Ketika terjadi inflasi, nilai mata uang akan turun, daya beli masyarakat pun ikut turun. Akibatnya, banyak orang harus punya uang lebih bila ingin membeli satu gram emas, bukan?
Menurut Ihsan, idelanya emas yang baik untuk disimpan adalah emas dalam bentuk batangan, karena free tax. Tetapi bagi kaum perempuan yang senang berhias, wajar jika memilih membeli emas dalam bentuk perhiasan, meski harganya harus kena pajak sebanyak 10%.
Lalu, di mana bisa membeli emas batangan? Perhiasan emas memang banyak tersedia di sejumlah toko emas yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan emas dalam bentuk batangan logam mulia atau koin dapat Anda beli dari PT Antam Logam Mulia. Mulai dari berat 1, 2, 2,5, 3, 5, 10, 25, 100, atau 250 gram, hingga 1 kg. Atau, Anda bisa membelinya di Kantor Pegadaian di mana saja.
Investasi Sesuai Usia Anda

COBA Anda renungkan sejenak. Sarana investasi apa yang sudah Anda miliki saat ini? Jika tidak ada, berarti Anda harus mulai memikirkannya segera. Memang sebagian dari kita pasti berpikir akan menyerahkan urusan investasi kepada kaum lelaki yang akan atau sudah menjadi pasangan hidup kita. Sementara uang jerih payah kita lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Iya, enggak?
Sudah saatnya kita memperkaya diri dengan berinvestasi. Banyak manfaatnya kok. Ingat, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Buat Anda yang masih berusia 20-an atau 30-an, semua ada sarananya. USIA 20-AN Karakter: baru memulai karier setelah lulus kuliah dan mulai memperoleh penghasilan sendiri. Prioritas utama jangka pendek adalah lepas dari ketergantungan pada orangtua atau keluarga yang telah membiayai kuliah. ‘Tanggungan’ masih relatif sedikit, bahkan belum ada. Si 20-an juga sedang menghadapi godaan dalam pengeluaran, seperti tawaran pembukaan kartu kredit, membeli pakaian, hang out di kafe, dan sebagainya.
Fokus: Lebih mengarah pada urusan mengelola penghasilan. Fokus lain adalah mencari cara menambah penghasilan yang jumlahnya belum terlalu banyak. Apalagi, penghasilan yang diterima masih bersumber pada diri sendiri (belum ada income dari pasangan), sementara pengeluaran seperti tak ada habisnya.
Pertimbangan Jangka Panjang: Untuk mempertahankan gaya hidup, si 20-an perlu memikirkan kebutuhan jangka panjang. Itu sebabnya, Anda perlu mengembangkan aset yang dipunyai. Caranya, pilih produk investasi yang bisa memberikan return (pengembalian dana) tinggi. Memang, produk ini berisiko tinggi. Toh, Anda masih muda dan jangka waktu yang dimiliki panjang. Jika memutuskan mengambil kredit rumah (KPR), pilih jangka waktu yang paling panjang. Dengan demikian, cicilannya masih terjangkau.
Pilihan investasi yang sesuai: 1. Tabungan dan deposito 20% untuk simpanan di kala darurat. 2. Reksa dana pendapatan tetap 30% untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah (3 tahun). 3. Reksa dana saham 50% untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang. Boks Simulasi Misalkan penghasilan Anda per bulan Rp 2.500.000. Setiap bulan Anda menabung 20% dari penghasilan. Maka dalam setahun tabungan Anda mencapai sekitar Rp 2.500.000 x 20% x 12 bulan = Rp 6.000.000 Nah, aset setahun ini bisa Anda bagi menjadi: Tabungan (20%) Rp 1.200.000 Reksa dana saham (50%) Rp 3.000.000 Reksa dana pendapatan tetap (30%) Rp 1.800.000
USIA 30-AN Karakter: Karier berada di posisi middle manager sampai dengan posisi senior. Perusahaan tempat bekerja mungkin sudah menyediakan fasilitas kesehatan. Anda juga pasti sudah menerima 1-2 jenis tunjangan sesuai jabatan. Kendaraan mungkin sudah dimiliki. Di usia ini, beberapa dari Anda sudah ada yang memiliki anak balita, bahkan ada yang sudah belasan tahun. Beberapa tahun mendatang, mereka akan masuk SD, SMP, dan seterusnya. Pengeluaran di kurun usia ini pun meningkat drastis dibandingkan kurun usia sebelumnya karena jumlah yang ditanggung dan jenis pengeluaran bertambah.
Fokus: Sebagai seorang istri dan ibu, fokus si 30-an adalah mengelola keuangan bukan hanya untuk keperluan pribadi, melainkan juga keperluan keluarga. Masa depan pendidikan anak dan kesehatan Anda pribadi, jadi beberapa hal yang akan Anda pikirkan.
Pertimbangan Jangka Panjang: Karena tujuan finansial si 30-an lebih bervariasi, seperti menyiapkan dana pendidikan anak dan mencicil rumah pribadi, maka produk investasi yang dipilih pun harus bervariasi.
Pilihan investasi yang sesuai: 1. Tabungan dan deposito 25 persen untuk simpanan di kala darurat. 2. Reksa dana pendapatan tetap 30 persen untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah (3 tahun). 3. Reksa dana saham 50 persen untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang. Boks Simulasi Misalkan penghasilan Anda per bulan Rp 5.000.000. Setiap bulan Anda menabung 20 persen dari penghasilan. Maka, dalam setahun tabungan Anda mencapai sekitar Rp 5.000.000 x 20 % x 12 bulan = Rp 12.000.000 Nah, aset setahun ini bisa Anda bagi menjadi: Tabungan (25 persen) Rp 3.000.000 Reksa dana saham (35 persen) Rp 4.200.000 Reksa dana pendapatan tetap (40 persen) Rp 4.800.000 Nah, siap menginvestasikan penghasilan? Jangan lupa top up tabungan dan investasi Anda setiap tahun atau setiap ada pemasukan tambahan! Selamat berinvestasi.
Sudah saatnya kita memperkaya diri dengan berinvestasi. Banyak manfaatnya kok. Ingat, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Buat Anda yang masih berusia 20-an atau 30-an, semua ada sarananya. USIA 20-AN Karakter: baru memulai karier setelah lulus kuliah dan mulai memperoleh penghasilan sendiri. Prioritas utama jangka pendek adalah lepas dari ketergantungan pada orangtua atau keluarga yang telah membiayai kuliah. ‘Tanggungan’ masih relatif sedikit, bahkan belum ada. Si 20-an juga sedang menghadapi godaan dalam pengeluaran, seperti tawaran pembukaan kartu kredit, membeli pakaian, hang out di kafe, dan sebagainya.
Fokus: Lebih mengarah pada urusan mengelola penghasilan. Fokus lain adalah mencari cara menambah penghasilan yang jumlahnya belum terlalu banyak. Apalagi, penghasilan yang diterima masih bersumber pada diri sendiri (belum ada income dari pasangan), sementara pengeluaran seperti tak ada habisnya.
Pertimbangan Jangka Panjang: Untuk mempertahankan gaya hidup, si 20-an perlu memikirkan kebutuhan jangka panjang. Itu sebabnya, Anda perlu mengembangkan aset yang dipunyai. Caranya, pilih produk investasi yang bisa memberikan return (pengembalian dana) tinggi. Memang, produk ini berisiko tinggi. Toh, Anda masih muda dan jangka waktu yang dimiliki panjang. Jika memutuskan mengambil kredit rumah (KPR), pilih jangka waktu yang paling panjang. Dengan demikian, cicilannya masih terjangkau.
Pilihan investasi yang sesuai: 1. Tabungan dan deposito 20% untuk simpanan di kala darurat. 2. Reksa dana pendapatan tetap 30% untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah (3 tahun). 3. Reksa dana saham 50% untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang. Boks Simulasi Misalkan penghasilan Anda per bulan Rp 2.500.000. Setiap bulan Anda menabung 20% dari penghasilan. Maka dalam setahun tabungan Anda mencapai sekitar Rp 2.500.000 x 20% x 12 bulan = Rp 6.000.000 Nah, aset setahun ini bisa Anda bagi menjadi: Tabungan (20%) Rp 1.200.000 Reksa dana saham (50%) Rp 3.000.000 Reksa dana pendapatan tetap (30%) Rp 1.800.000
USIA 30-AN Karakter: Karier berada di posisi middle manager sampai dengan posisi senior. Perusahaan tempat bekerja mungkin sudah menyediakan fasilitas kesehatan. Anda juga pasti sudah menerima 1-2 jenis tunjangan sesuai jabatan. Kendaraan mungkin sudah dimiliki. Di usia ini, beberapa dari Anda sudah ada yang memiliki anak balita, bahkan ada yang sudah belasan tahun. Beberapa tahun mendatang, mereka akan masuk SD, SMP, dan seterusnya. Pengeluaran di kurun usia ini pun meningkat drastis dibandingkan kurun usia sebelumnya karena jumlah yang ditanggung dan jenis pengeluaran bertambah.
Fokus: Sebagai seorang istri dan ibu, fokus si 30-an adalah mengelola keuangan bukan hanya untuk keperluan pribadi, melainkan juga keperluan keluarga. Masa depan pendidikan anak dan kesehatan Anda pribadi, jadi beberapa hal yang akan Anda pikirkan.
Pertimbangan Jangka Panjang: Karena tujuan finansial si 30-an lebih bervariasi, seperti menyiapkan dana pendidikan anak dan mencicil rumah pribadi, maka produk investasi yang dipilih pun harus bervariasi.
Pilihan investasi yang sesuai: 1. Tabungan dan deposito 25 persen untuk simpanan di kala darurat. 2. Reksa dana pendapatan tetap 30 persen untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah (3 tahun). 3. Reksa dana saham 50 persen untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang. Boks Simulasi Misalkan penghasilan Anda per bulan Rp 5.000.000. Setiap bulan Anda menabung 20 persen dari penghasilan. Maka, dalam setahun tabungan Anda mencapai sekitar Rp 5.000.000 x 20 % x 12 bulan = Rp 12.000.000 Nah, aset setahun ini bisa Anda bagi menjadi: Tabungan (25 persen) Rp 3.000.000 Reksa dana saham (35 persen) Rp 4.200.000 Reksa dana pendapatan tetap (40 persen) Rp 4.800.000 Nah, siap menginvestasikan penghasilan? Jangan lupa top up tabungan dan investasi Anda setiap tahun atau setiap ada pemasukan tambahan! Selamat berinvestasi.
Senin, 16 Maret 2009
My Lovely Child
Kamis, 05 Maret 2009
Berinvestasi Buat Masa Depan
Krisis global yang melanda seluruh penjuru dunia, menyebabkan kita para golongan pekerja non mandiri mulai berfikir keras, bagaimana agar tetap bisa survive demi kelanjutan hidup jika terkena PHK kelak.
Untuk itu melalu artikel ini Saya tawarkan kepada rekan sesema karyawan untuk mulai menciptakan ladang investasi mulai hari ini.
Berusaha dan menjadi pengusaha adalah impian semua orang, untuk mencapai tahap itu Saya mengajak semua rekan untuk menjadi calon "penguasaha" uang, silakan kunjungi http://www.investasimandiri.com/?id=ayodya atau http://www.mandirikita.com/ayodya, Hanya dengan kepemilikan rek. Mandiri dan modal 200 ribu Anda bisa menciptakan investasi yang bisa di andalkan kedepannya.
Ini adalah program arisan terbesar dari semua nasabah bank Mandiri, kenapa tidak kita coba saja???
Untuk lebih lanjut silahkan kontak saya by email di norma.ayodya07@gmail.com or my mobile 087871064111
Salam Sukses
Untuk itu melalu artikel ini Saya tawarkan kepada rekan sesema karyawan untuk mulai menciptakan ladang investasi mulai hari ini.
Berusaha dan menjadi pengusaha adalah impian semua orang, untuk mencapai tahap itu Saya mengajak semua rekan untuk menjadi calon "penguasaha" uang, silakan kunjungi http://www.investasimandiri.com/?id=ayodya atau http://www.mandirikita.com/ayodya, Hanya dengan kepemilikan rek. Mandiri dan modal 200 ribu Anda bisa menciptakan investasi yang bisa di andalkan kedepannya.
Ini adalah program arisan terbesar dari semua nasabah bank Mandiri, kenapa tidak kita coba saja???
Untuk lebih lanjut silahkan kontak saya by email di norma.ayodya07@gmail.com or my mobile 087871064111
Salam Sukses
Langganan:
Komentar (Atom)

